Ada NIA dalam hidupku……

Niat merupakan barometer untuk meluruskan amal perbuatan. Apabila niat baik, maka amalan menjadi baik. Sebaliknya, bila niat rusak, amalan juga akan rusak. Hal ini sesuai dengan hadits Rasululloh Shalallahu ‘alaihi Wassalam:

“Dari Amiril Mukminin Abu Hafs Umar ibn Khottob Radhiyallohu‘anhu bahwasanya dia berkata: Aku mendengar Rasululloh  Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda:“Sesungguhnya segala amalan itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan hasil sesuai dengan niatnya. Maka barangsiapa yang hijrah-nya karena Alloh dan Rasul-Nya, maka hijrahnya dinilai kepada Alloh dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak didapatkannya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya dinilai sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR.Bukhari dan Muslim)[1].
An-Niyyaatu adalah bentuk jamak dari niyyatun, artinya tujuan. Dengan ungkapan yang lebih luas: Niat adalah tergeraknya hati menuju apa yang dianggapnya sesuai dengan tujuan baik berupa perolehan manfaat atau pencegahan mudarat.
Niat mengandung dua makna:
1.       Bermakna pemisahan –-ibadah satu dengan lainnya misalnya, pemisahan antara sholat Dhuhur dan Ashar, atau pembedaan antara ibadah dan adat (‘Urf)—seperti juga pembedaan antara mandi janabat dengan mandi biasa. Niat dengan makna seperti ini banyak dijumpai dalam kitab-kitab fiqh para fuqoha. Perbedaan yang sering muncul dalam masalah niat (dalam pengertian ini) adalah masalah haruskah niat itu dilafalkan atau kah cukup dalam hati. Para ulama telah banyak menjelaskan mengenai masalah ini, seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin,beliau berkata:”Dalam semua amalan, niat tempatnya dihati, bukan dilidah. Oleh karena itu, barangsiapa yang mengucapkan niat dengan lisan ketika hendak sholat, puasa, haji, wudhu, atau amalan yang lain, maka dia telah melakukan kebid’ahan,mengamalkan sesuatu yang tidak ada asalnya dalam agama Alloh. Hal itu karena Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam ketika berwudhu, shalat, bersedekah, berpuasa, dan berhaji tidak pernah mengucapkan niat dengan lisan, karena niat memang tempatnya di hati.”[2] Memang niat merupakan amalan hati[3] yang tidak perlu untuk diucapkan, apabila kita ber-wudhu atau akan sholat maka inilah niat (amalan hati, terwujud dalam per-buatan), tidak mungkin bagi orang yang berakal dan tidak dipaksa melakukan sesuatu (entah itu amal yang baik maupun buruk) kecuali sudah dia niatkan. Oleh karena itu sebagian ahli ilmu mengatakan:” Kalaulah Alloh membebankan kamu suatu pekerjaan tanpa niat, pastilah pembebanan itu sesuatu yang tidak dapat dikuasainya”.
2.       Niat bermakna pembedaan maksud seseorang dalam beramal. Apakah semata-mata karena Alloh, atau karena yang lainnya, atau karena bersamaan dengan lainnya. Maksudnya ada manusia yang beramal ikhlas karena Alloh, ada yang ingin dilihat dan dipuji orang lain, ada juga yang beramal supaya dipuji orang sekaligus memperoleh ridho dari Alloh. Bagi orang yang beramal hanya karena mengharapkan ridho Alloh semata dengan diiringi rasa raja’ (berharap) dan khauf (takut –akan siksaannya,pen)  itulah orang-orang yang ikhlas [4]. Keikhlasan inilah point penting dalam setiap amalaliah perbuatan kita sekecil apapun itu. Ikhlas merupakan hakikat agama Islam, inti peribadatan seorang hamba, syarat diterimanya amal dan merupakan dakwahnya para Rosulullah. Tanpa keikhlas-an amal kita tidak ada artinya apa-apa. Dan untuk itulah, Alloh memerintahkan kita untuk menjalankan agama yang lurus dan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya semata. Sebagaimana dalam firman-Nya:                        Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS.Al-Bayyinah : 5)
                       Ayat ini mengisyaratkan kita dalam beramal hendaknya memperhatikan keikh-lasan niat kita dan sesuai dengan petunjuk agama-Nya yang lurus (sesuai deng-an syari’at).
Bagi orang-orang yang beramal kepada selain Alloh ada beberapa macam:
o        Amalan riya’ semata-mata. Yaitu tidak dilakukan melainkan hanya supaya dilihat oleh makhluq karena tujuan duniawi. Maka amalan ini jelas tidak akan memberikan arti apa-apa dihadapan Alloh. Bahkan riya’ merupakan syirik ashghar (syirik kecil). Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: ”Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan kepada kalian adalah syirik kecil, para sahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan syirik kecil? Rasulullah menjawab,dia adalah riya”.[5]
o        Amalan yang ditujukan bagi Alloh dan disertai riya’ dari asalnya, maka amalan seperti ini salah (bathil) dan terhapus (tidak mendapatkan pahala apapun disisi Alloh, bahkan berdosa). Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam ber- sabda: “Alloh Tabaraka Wata’aala berfirman:”Aku paling tidak butuh kesyirikan. Maka barangsiapa yang melakukan amalan yang mempersekutukan antara Aku dan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya.”[6]
o        Amalan yang ditujukan bagi Alloh dan disertai niat lain selain riya’. Contohnya : jihad fisabilillah hanya karena Alloh dan karena menghendaki harta rampasan perang, maka amalan seperti ini berkurang pahalanya, dan tidak sampai batal dan terhapus. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: “Tidak ada seorangpun yang berjihad di jalan Alloh kemudian mendapatkan ghanimah melainkan telah menyegerakan dua pertiga pahala mereka diakhirat dan tinggal bagi mereka sepertiganya, dan jika tidak mendapatkan ghanimah maka mereka mendapatkan pahala yang sempurna.”[7]
o        Amalan yang asalnya ditujukan bagi Alloh kemudian terbesit riya’ ditengah-tengahnya, maka amalan ini terbagi menjadi dua:
o        Jika riya’ tersebut terbesit sebentar dan segera dihalau maka riya’ tersebut tidak berpengaruh apa-apa.
o        Jika riya’ tersebut selalu menyertai amalannya maka yang rojih dari pendapat ulama adalah amalannya tidak batal dan dinilai niat awalnya sebagaimana dinukil pendapat ini dari Imam Hasan Al-Bashri.
Adapun jika seseorang beramal ikhlas karena Alloh kemudian mendapat pujian sehingga dia merasa senang dengan pujian tersebut, maka hal ini tidak berpengaruh apa-apa terhadap amalannya sebagaimana dalam hadits Abu Dzar Radhiyallohu‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam ditanya seseorang yang beramal karena Alloh kemudian dipuji oleh manusia, maka beliau menjawab:”Itu adalah khabar gembira yang disegerakan bagi seorang mu’min.”[8]
Imam Hasan Al-Banna berkata, “Ikhlas adalah seorang akh Muslim yang bermaksud dengan kata-katanya, amalnya dan jihadnya, seluruhnya hanya kepada Alloh, untuk mencari ridho Alloh dan balasan yang baik dari Alloh dengan tanpa melihat kepada keuntungan, bentuk, kedudukan, gelar, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian ia menjadi tentara aqidah dan fikrah dan bukan tentara keinginan atau manfaat.”[9]
Cara-cara untuk menumbuhkan niat yang ikhlas:
1.       Mengetahui arti keikhlasan dan urgensinya dalam beramal
2.       Menambah pengetahuan tentang Allah swt dan hari kiamat. Dengan mengetahui ilmu tentang-Nya, maka seseoang mengenal Allah swt dengan sebenar-benarnya tentulah tidak akan berani berbuat syirik (menyekutukan Allah dengan selain-Nya di dalam niatnya). Ia juga akan mempertimbangkan amal-amalnya dan balasannya nanti di akhirat.
3.       Memperbanyak membaca/berinteraksi dengan al-Qur’an, karena al-Quran adalah penyembuh dari segala penyakit dalam dada (QS.10:57) termasuk penyakit riya, ujub, dan sum’ah.
4.       Memperbanyak amal-amal rahasia, sehingga kita terbiasa untuk beramal karena Allah semata tanpa diketahui orang lain.
5.       Menghindari / mengurangi saling memuji, karena dengan pujian terkadang orang jadi lalai hatinya dan menjadi sombong.
6.       Berdoa, dengan tujuan agar selalu diberi keikhlasan dan dijauhi dari syirik. Doa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw : “Allahumma innii a’udzubika annusyrikabika syaian a’lamuhu wa astaghfiruka lima laa a’lamuhu.” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari syirik kepada-Mu dalam perbuatan yang aku lakukan dan aku memohon ampun ke-pada-Mu terhadap apa yang tidak aku ketahui.)[10]
Akhi fillah, setelah kita memahami esensi dari sebuah kelurusan niat dalam setiap amal kita, mari kita bersama senantiasa menjaga kelurusan niat-niat kita. Amal sekecil apapun itu dan siapapun kita, maka Alloh melihat hati kita dan amal perbuatan kita bukan yang lain. Tanda-tanda keikhlasan bagi seorang da’I nampak dari dirinya yang tidak menginginkan sesuatu dari dakwah ini kecuali karena Alloh semata. Ia tidak ingin mendapatkan status sosial yang tinggi. Ia tidak banyak memikirkan apakah posisinya tinggi atau tidak dikenal di antara manusia. Dia tidak merasa peduli dengan manusia dan sanjungan dari mereka. Ia tidak berusaha untuk mendapatkan rasa takjub dari mereka. Ia tidak mengharap pujian dan penghormatan dari mereka. Hal ini tidak berarti bahwa dia berharap untuk mendapat celaan dari manusia atau prasangka buruk dari mereka. Tidak begitu. Tetapi seyogyanya ia menapaki jalan dakwah pada jalan yang lurus dan tidak mengharapkan kecuali pahala dari Alloh semata. Dia tidak berusaha untuk mendapatkan keuntungan berupa harta yang banyak dari dakwah ini. Sebab alangkah jeleknya orang yang mengira bahwa dirinya hanya menghendaki Alloh dan keridhaan-Nya, padahal sebenarnya mereka hanya mengharapkan kepada dinar dan dirham. Keikhlasan seorang da’I menjelma dalam sikapnya yang merasa gembira apabila tercapai keberhasilan dari tangan orang lain sebagaimana dia merasa gembira kalau keberhasilan itu dicapai dengan tangannya sendiri. Dia tetap akan melakukan amalnya walaupun harus ditinggalkan sendirian oleh saudaranya, karena di yakin Alloh bersamanya. Jika ini terjadi dalam diri kita, maka karakter kader dakwah yang muntij (produktif), insya Alloh akan muncul dalam diri kita. Teruslah beramal dengan ilmu dan kelu-rusan niat.
Wallahu musta’an.


[1] Derajad hadits ini telah disepakati kesahihannya dan masyhur oleh para ulama, diletakkan oleh Imam Bukhari dalam awal shohihnya sebagai khutbah pembuka kitabnya, dikeluarkan juga oleh Imam Muslim dalam shohihnya. Para imam yang enam dan lainnya mengeluarkan hadits ini dalam kitab-kitab mereka.

[2] Lihat dalam Kitab Syarah Riyadhus Shalihin I/9-10

[3] Amalan terbagi atas amalan hati, amalan lisan, dan amalan anggota badan. Amalan hati adalah amalan yang hanya bisa dilakukan oleh hati (misal: niat,ikhlas,khauf (takut), raja’ (berharap),dsb).Amalan lisan adalah amalan yang hanya bisa dilakukan oleh lisan (misal: dzikir,tilawah Al-Qur’an,dsb). Sedangkan amalan anggota badan atau amalan jawarih adalah amalan yang hanya bisa dilakukan oleh anggota-anggota badan (misal: sujud,ruku’,dsb). Berbeda dengan ucapan, terbagi atas ucapan hati dan ucapan lisan. Ucapan hati, misalnya membenarkan dan meyakini akan kebenaran Islam. Sedangkan ucapan lisan, misalnya mengucapkan dua kalimat syahadat dan meyakini konsekuensinya.—pen.

[4] Ikhlas secara bahasa (lughoh) adalah masdar dari kata kerja Akhlasho – Yukhlishu – Ikhlaashon yang maknanya memurnikan, membersihkan dari segala kotoran. Adapan menurut istilah syar’I atau terminologi para ulama mendefinisikan dengan ungkapan yang beragam. Berikut sebagian perkataan mereka, berkata Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah rahimahulloh,” Ikhlas adalah memurnikan amalan dari segala kotoran, maksudnya tidaklah amalannya tercampuri dengan kotoran-kotoran kehendak jiwa, baik berupa keinginan dilihat manusia mengharap- kan pujian mereka, atau mencari pengagungan harta, bantuan, kecintaan dan lain-lain dari segala kotoran dan penyakit. Inti semua itu adalah menghendaki tujuan kepada selain Alloh dalam amalannya apapun bentuknya”.(Madarijuss Salikin, 2/96). Lawan dari Ikhlas adalah syirik yang berarti menyekutukan.

[5] HR.Akhmad 5/428, Baihaqi 6831, Baghowi dalam Syarhuss Sunnah 4/201, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shohihah 951, Shohih Targhib 1/120).

[6] HR.Muslim 2985. Hadits ini merupakan hadits Qudsi, yaitu hadits disandarkan kepada Alloh kemudian Rasululloh Shalallahu ‘alaihi Wassalam menceritakan dan meriwayatkan dari Alloh. Perbedaan antara hadits qudsi dengan Al-Quran:
o        Al-Quran lafalz dan maknanya dari Alloh sedangkan hadits qudsi lafalznya dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam sedang maknanya dari Alloh.
o        Membaca Al-Quran dinilai ibadah dan mendapatkan pahala dari Alloh sedangkan membaca hadits qudsi tidak.
o        Al-Quran disyaratkan harus mutawatir dalam periwayatannya sedangkan hadits Qudsi tidak harus mutawatir.
“Qudsi” secara bahasa diambil dari “Qudus” yang artinya suci, karena hadits Qudsi disandar kan kepada Alloh Dzat Yang Maha Suci.

[7] HR.Muslim 1906.

[8] HR. Muslim 2642. Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam I/36-52.

[9] Lihat Rakaizud Dakwah Konsep Dasar Gerakan Dakwah hal.22

[10] HR. Akhmad IV/403 dan lainnya dari Abu Musa Al-‘Asy’ari radhiyallohu ‘anhu. Lihat Shahih at-Targhib wat Tarhiib I/121-122 No.36.

MARAJI’ (REFERENSI)

  1. Arba’in An-Nawawi, Imam An-Nawawi Al-Banthany.
  2. Kitab Riyadhus Shalihin. Imam An-Nawawi
  3. Mensucikan Jiwa. Said Hawwa
  4. Al Muntaqa minat targhibi wa tarhib. Dr.Yusuf Al-Qaradhawy.
  5. Rakaizud Dakwah. Dr.Majdi Al-Hilali

sumber :     http://www1.gamais.itb.ac.id/node/374912001

About rile

lazy cat

Posted on September 10, 2006, in Hikmah & Inspirasi. Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: