Disposisi Sendi Mandibula II

Masih ingat postingan saya tentang disposisi sendi mandibula bagian pertamanya? Kali ini saya mengalami bagian kedua-nya. Pagi ini, minggu, 7 Desember 2008, seusai sholat subuh saya internetan sebentar, lalu mulai ngantuk lagi trus akhirnya tiduran di kursi. Bangun tidur saya tingak tinguk sudah jam 7 pagi, maunya sich nyetel TV. Tiba tiba……… ya … tiba tiba, hoahhhmmmmm…………… klethuk, eh, nich mulut gak bisa mingkem lagi. Ternyata kejadian 7 bulan lalu terulang kembali. Tapi seperti biasa, saya tidak terlalu bingung dan khawatir. Saya sms temen saya, mo minta anter ke Puskesmas ato dokter terdekat. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, yang memberikan banyak nikmat karunia dan kemudahan bagi hamba-Nya, tak terlalu sulit dan lama, saya dan teman saya mendapatkan Dokter praktik yang tidak jauh dari Balicamp, o ya, saya tidur kantor malemnya, yaitu di Balicamp. Memang sich, sebetulnya si Dokter juga lagi gak bukak praktik, puskemas apalagi, lha wong hari minggu + masih jam segitu. Tapi sekali lagi, semua adalah kehendak-Nya, pintu di buka, tak disangka si Dokter langsung mempersilahkan masuk, duduk disini, bersandar, tanpa infus tidak seperti kejadian 7 bulan lalu yang di infus sampe teler, langsung deh, ceklak…… Alhamdulillah, bisa mingkem lagi nich mulut.Setelah itu, pembayaran pun di mulai, “brapa Dok?”, tanyaku. “empat puluh ribu”, jawab si Dokter.” Hahhhh……. kok murah”, terkejut saya dalam hati. Maklumlah saya terkejut, soalnya kejadian 7 bulan yang lalu memakan biaya 750 ribu.

Kata dokter, apapun memang tidak boleh berlebihan, seperti halnya makan kita tidak boleh berlebihan. Begitu juga dengan menguap, ato tertawa, kita juga tidak boleh berlebihan. Mungkin ngoding alias kerja jadi progremer juga nggak boleh berlebihan kali yakkkk…. hehehehehe. Jadinya hidup ini gak seimbang, kalo terlalu banyak ato terlalu sedikit, jadi yang pas pas saja. Saya ingat perumpamaan seorang Guru, ketika memberikan contoh pada murid muridnya untuk memberikan pandangan tentang kehidupan. Pertama sang Guru memperlihatkan sebuah toples pada murid muridnya, kemudian Sang Guru bertanya pada murid2 nya, “Apakah cukup toples ini diisi denga Batu batu besar ini?”,  murid2 nya pun menjawab, “cukup”. Kemudian, dimasukkanlah batu batu besar itu ke dalam toples hingga penuh. Kemudian sang guru bertanya lagi, “apakah masih cukup untuk diisi lagi?”, murid2 nya pun menjawab, “tidakkkkk…”. Kemudian sang guru mengatakan, “masih cukup”, dan sang guru pun memasukkan kerikil-kerikil kecil. Kemudian sang guru bertanya lagi, “masih cukupkah kita isi lagi”. Salah seorang murid menjawab, “mungkin masih cukup”. Kemudian sang guru mulai memasukkan air. Kemudian sang guru menjelaskan bahwa seperti itulah hidup, kita punya prioritas, kita harus luangkan waktu buat batu batu besar kita, Keluarga, Orang-orang tersayang yang kita cintai, Orang orang yang membutuhkan kita, Mimpi mimpi kita, Cita cita kita ato apapun yang menjadi Batu batu besar dalam hidup kita. Jangan terlalu sibuk terhadap kerikil-kerikil kecil atopun airnya dengan melupakan batu batu besar dalam hidup kita. Tentunya semua tak lepas dari mencari ridho Allah, dan mengharap surga-Nya.

eh, nyambung gak sich, kalo nggak ya disambung sambungin aja yakkk…. hwehe.

About rile

lazy cat

Posted on December 7, 2008, in Hikmah & Inspirasi. Bookmark the permalink. 8 Comments.

  1. emang “ceklak…” diapain sama dokternya? ditutup manual gt ya sama tangan? ato diapain

  2. iya, di tekan manual sama dokternya/…

  3. saya pernah seperti itu, sembuhnya cuma di rileks in aja, jadi usahakan jangan tegang.

  4. oooo, bisa ya…… saya malah takut mas….

  5. heee..hee..heee..antum kiy ati2 jgn terperosok pd lubang yg sama.. tp ada baiknya jg, ana lum pnh dpt kasus disposisi mandibula..entar kl kejadian lg panggil ana ya..tak praktek..he99x.. jd penasaran pgn “ceklak…”in… gratis dah bwt antum..🙂

  6. Setahuku dulu waktu praktek di UGD RS Sanglah (cieeeeee…) ada pasien dengan kasus yang sama suruh duduk dibawah terus tangannya dilipat sedemikian rupa terus disuruh merem biar gak ketahuan rahasianya tuh dokter sama si pasien…eh langsung normal lagi…dan gile bener…waktu itu kalo gak salah tahun 2004 tarifnya dah 50ribuan…gila juga tuh dokter ya….apalagi sekarang coba tarifnya berapa…😀

  7. Kalo kata dokter aku (aku udah 3 kali kena disposisi mandibula)
    sekali kena disposisi, kemungkinan itu bakal terus2an, hehe..
    Jadi emang mesti hati2,,
    Tapi aku gak sampe diinfus segala kok, biayanya juga gak sampe 750ribu, hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: